Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

ADAB DAN TATA CARA ISTINJA' (BAG 1)

 ADAB DAN TATACARA ISTINJA’( bag 1 )

Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah dalam Matan Taqrib menyebutkan,

والاِسْتِنْجَاءُ وَاجِبٌ مِنَ البَوْلِ وَالغَائِطِ وَالأَفْضَلُ أَنْ يَسْتَنْجِيَ بِالأَحْجَارِ ثُمَّ يُتْبِعُهَا بِالماَءِ وَيَجُوْزُ أَنْ يَقْتَصِرَ عَلَى الماَءِ أَوْ عَلَى ثَلاَثَةِ أَحْجَارٍ يُنْقِي بِهِنَّ المحَلَّ فَإِذَا أَرَادَ الاِقْتِصَارَ عَلَى أَحَدِهِمَا فَالماَءُ أَفْضَلُ.

Istinjak (mengeluarkan najis yang keluar dari farji) itu wajib dilakukan setelah buang air kecil maupun air besar.

Cara istinjak yang paling utama adalah dengan menggunakan beberapa buah batu terlebih dahulu, kemudian diikuti dengan air. Boleh beristinjak hanya dengan air atau dengan tiga buah batu untuk menyucikan tempat keluarnya kotoran. Jika ingin memilih hanya salah satu dari keduanya, maka beristinjak dengan air itu lebih utama.

          Pada pembahasan kali ini akan dibahas tentang tata cara istinja’ dan adab buang hajat.

Istinja’ secara bahasa mempunyai arti al-qotu ( (القطع yang artinya memotong.

Adapun secara istilah istinja’ adalah إزالة الخارج النجس من الفرج عن الفرج بماء أو حجر  ( menghilangkan sesuatu yang keluar berupa najis dari farji’ dengan menggunakan air atau batu ).

Menghilangkan najis pada dasarnya bukan hanya pada kasus buang air kecil dan air besar saja akan tetapi dari setiap najis adapun kalimat yang disebutkan oleh penulis didalam kitabnya “Istinjak (mengeluarkan najis yang keluar dari farji) itu wajib dilakukan setelah buang air kecil maupun air besar”, maka ini bukanlah pembatasan , akan tetapi hanya seperti contoh saja.

Adapun hukum istinja’ adalah wajib dari setiap najis.

Cara yang paling afdol ketika istinja’ adalah menggunakan tiga batu kemudian diikuti dengan air , adapun maksud tiga batu disini bukan mutlak tiga buah batu akan tetapi batu yang memiliki 3sisi maka ini sudah termasuk kedalam 3batu.

Jika seandainya didalam beristinja’ ingin mencukupkan salah satu dari kedua alat yang digunakan maka menggunakan air yang utama, kemudian batu. Adapun alasan kenapa menggunakan air lebih utama dari batu hal ini dikarenakan air akan menghilangkan najis secara keseluruhan baik hakikat najisnya ataupun bekasnya adapun menggunakan batu maka ia hanya menghilangkan hakikat najis dan tidak menghilangkan bekas najis.

Ketika istinja’ menggunakan batu maka ada empat syarat yang harus dipenuhi :

1.     Batu yang digunakan adalah batu yang suci

2.     Batu yang digunakan adalah batu yang kering dan tidak sah istinja’ mengggunakan sesuatu yang basah seperti tisu basah

3.     Hendaknya benda yang digunakan padat/kuat artinya tidak sah menggunakan sesuatu yang lembek yang tidak bisa mengangkat najis

4.     Sesuatu yang digunakan ketika istinja adalah sesuatu yang tidak haram seperti mushaf, kitab-kitab ilmu dan lain sebagainya.

 

 

 

 

ADAB-ADAB BUANG HAJAT

 

 

Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah dalam Matan Taqrib menyebutkan,

وَيَجْتَنِبُ اسْتِقْبَالَ القِبْلَةِ وَاسْتِدْبَارَهَا فِي الصَّحْرَاءِ وَيَجْتَنِبُ البَوْلَ وَالغَائِطَ فِي الماَءِ الرَّاكِدِ وَتَحْتَ الشَّجَرَةِ المثْمِرَةِ وَفِي الطَّرِيْقِ وَالظِّلِّ وَالثَّقْبِ وَلاَ يَتَكَلَّمُ عَلَى البَوْلِ وَلاَ يَسْتَقْبِلُ الشَّمْسَ وَالقَمَرَ وَلاَ يَسْتَدْبِرُهُمَا.

Tidak boleh membuang hajat di tempat terbuka dengan menghadap kiblat atau membelakanginya. Tidak boleh membuang air kecil maupun air besar di air yang menggenang, di bawah pohon yang berbuah, di jalanan, dan tempat orang berteduh serta pada lubang.

Tidak boleh berbicara ketika buang air kecil maupun air besar dan tiak menghadap matahari dan bulan juga tidak membelakangi keduanya.

 

          Setelah Al-qhadi Abu Syuja’ menjelaskan tentang tata cara istinja’ maka beliau rahimahullah menjelaskan tentang adab-adab istinja’ dan ini tentunya salah satu bentuk agungnya agama ini dan bukti tentang sempurnnya agama ini karna Allah subhana wata’aala telah menjelskan kepada kita tentang semua hal dari yang besar sampai yang terkadang dianggap sepele oleh sebagian manusia salah satunya permasalahan adab buang hajat.

          Al-qhadi Abu Syuja’ mengatakan adab-adab buang hajat :

1.     Tidak boleh buang hajat ditempat terbuka dengan menghadap kiblat atau membelakanginya

Hal ini sesuai dengan sabda sabda nabi shalallahu alaihi wasallam

·        Dari Salman Al Farisi Radhiallahu ‘anhu ia berkata,

قِيلَ له: قدْ عَلَّمَكُمْ نَبِيُّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ كُلَّ شيءٍ حتَّى الخِراءَةَ قالَ: فقالَ: أجَلْ لقَدْ نَهانا أنْ نَسْتَقْبِلَ القِبْلَةَ لِغائِطٍ، أوْ بَوْلٍ، أوْ أنْ نَسْتَنْجِيَ باليَمِينِ، أوْ أنْ نَسْتَنْجِيَ بأَقَلَّ مِن ثَلاثَةِ أحْجارٍ، أوْ أنْ نَسْتَنْجِيَ برَجِيعٍ، أوْ بعَظْمٍ

“Salman pernah ditanya, ‘apakah Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam kalian mengajarkan segala sesuatu sampai masalah buang air?’. Salman menjawab, ‘Benar. Beliau melarang kami untuk menghadap kiblat ketika buang air besar atau buang air kecil. Beliau melarang kami untuk beristinja (cebok) dengan tangan kanan. Beliau melarang kami untuk beristinja dengan batu yang jumlahnya kurang dari tiga. Beliau melarang kami untuk beristinja dengan kotoran hewan atau tulang’” (HR. Muslim no. 262).

·        Di antaranya hadis dari Abu Ayyub Al Anshari Radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda,

إذَا أتَيْتُمُ الغَائِطَ فلا تَسْتَقْبِلُوا القِبْلَةَ، ولَا تَسْتَدْبِرُوهَا ولَكِنْ شَرِّقُوا أوْ غَرِّبُوا قالَ أبو أيُّوبَ: فَقَدِمْنَا الشَّأْمَ فَوَجَدْنَا مَرَاحِيضَ بُنِيَتْ قِبَلَ القِبْلَةِ فَنَنْحَرِفُ، ونَسْتَغْفِرُ اللَّهَ تَعَالَى

“’Kalau kalian berada di tempat buang air, maka janganlah menghadap kiblat dan janganlah membelakangi kiblat. Namun menghadaplah ke timur atau ke barat’. Kemudian Abu Ayyub berkata, ‘Dahulu ketika kami sampai ke negeri Syam, kami mendapati tempat buang air dibangun menghadap ke arah kiblat. Maka kami pun mengubahnya dan kami meminta ampunan kepada Allah ta’ala’” (HR. Al-Bukhari no. 394, Muslim no. 264).

 

Dalam riwayat Muslim,

فلا تَسْتَقْبِلُوا القِبْلَةَ، ولا تَسْتَدْبِرُوها ببَوْلٍ ولا غائِطٍ

“Maka janganlah menghadap kiblat dan janganlah membelakangi kiblat ketika buang air kecil atau buang air besar” (HR. Muslim no. 264).

          Tidak boleh buang hajat menghadap kiblat hukumnya wajib jika tidak ada penghalang sama sekali adapun jika tempat buang hajat ada penghalang misal bangunan yang telah dikenal seperti toilet dan yang semisalnya maka tidak menghadap kiblat menjadi sunnah, karna terdapat dalil yang mana nabi shalallahu alaihi wasallam buang hajat menghadap kiblat dan juga membelakanginya diantaranya :

·        hadis dari Abdullah bin Umar Radhiallahu ‘anhuma, ia berkata,

ارْتَقَيْتُ فَوْقَ ظَهْرِ بَيْتِ حَفْصَةَ لِبَعْضِ حَاجَتِي، فَرَأَيْتُ رَسولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ يَقْضِي حَاجَتَهُ مُسْتَدْبِرَ القِبْلَةِ، مُسْتَقْبِلَ الشَّأْمِ

“Aku pernah naik ke atas rumah Hafshah untuk suatu keperluan. Lalu aku melihat Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam sedang buang hajat membelakangi kiblat dan menghadap ke arah Syam” (HR. Bukhari no.148, Muslim no.266)

·        Dari Marwan bin Al Ashfar Rahimahullah ia mengatakan,

رأيتُ ابنَ عمرَ أناخ راحلتَه مستقبلَ القبلةَ يبول إليها فقلتُ أبا عبدَ الرحمنِ أليس قد نهي عن ذلك فقال بلى إنما نهي عن هذا في الفضاءِ فإذا كان بينَك وبين القبلةِ شيءٌ يستُركَ فلا بأسَ

“Aku pernah melihat Ibnu Umar menderumkan untanya menghadap kiblat. Lalu beliau buang air kecil menghadap kiblat. Maka aku bertanya, ‘Wahai Abu Abdirrahman, bukanlah perbuatan seperti itu dilarang?’ Ibnu Umar berkata, ‘memang benar itu dilarang, namun yang dilarang adalah ketika buang air di tempat terbuka, adapun jika antara engkau dan kiblat ada sesuatu yang menutupi, maka tidak mengapa'” (HR. Abu Daud no. 11, Ibnu Khuzaimah no. 60, Ad Daruquthni [1/159]).

·        Dari Jabir bin Abdillah Radhiallahu’anhu, ia berkata,

نهَى النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليْهِ وسلَّمَ أنْ نستقبلَ القِبلةَ ببَولٍ ، فرأيتُهُ قبلَ أنْ يُقبَضَ بعامٍ يستقبِلُها

“Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam melarang kami untuk buang air kecil ke arah kiblat. Namun aku pernah melihat beliau buang air kecil ke arah kiblat setahun sebelum beliau wafat” (HR. Abu Daud no. 13, At Tirmidzi no.9, Ibnu Majah no. 325, Ahmad no. 14872 ) .

          Dalil – dalil diatas menunjukan adanya pengecualian dalam masalah buang hajat menghadap kiblat yang mana ia dikatakan haram jika tempat buang hajat terseut terbuka dan tidak adanya penghalang akan tetapi jika ada penghalang maka ia tiaklah mengapa dan dalam mazhab syafii dikatakan tempat tersebut telah ada penghalang sekitar 3 dziraa’ dan ini paling minimal.

2.     Tidak boleh buang air kecil ataupun air besar diair yang tergenang

Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ فِى الْمَاءِ الدَّائِمِ ثُمَّ يَغْتَسِلُ مِنْهُ

Janganlah salah seorang dari kalian kencing di air yang diam kemudian ia mandi darinya” (HR. Bukhari no. 239 dan Muslim no. 282).

Dalam riwayat Bukhari disebutkan,

لاَ يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ فِى الْمَاءِ الدَّائِمِ الَّذِى لاَ يَجْرِى ، ثُمَّ يَغْتَسِلُ فِيهِ

Janganlah salah seorang dari kalian kencing di air yang diam yaitu air yang tidak mengalir kemudian ia mandi di dalamnya.

Dalam riwayat Muslim disebutkan,

لاَ يَغْتَسِلُ أَحَدُكُمْ فِى الْمَاءِ الدَّائِمِ وَهُوَ جُنُبٌ

Jangan salah seorang dari kalian mandi di air yang tergenang dalam keadaan junub” (HR. Muslim no. 283).

Pada dalil-dalil diatas menunujukan tidak bolehnya atau haramnya kencing diair yang tergenang.

 

 

 

 

Referensi:

  • Fath Al-Qarib Al-Mujib. Al-‘Allamah Asy-Syaikh Muhammad bin Qasim Al-Ghazi. Penerbit Thaha Semarang.
  • Hasyiyah Al-Baijuri ‘ala Syarh Al-‘Allamah Ibnu Qasim Al-Ghazzi ‘ala Matn Abi Syuja’. Cetakan kedua, Tahun 1441 H. Ibrahim bin Muhammad bin Ahmad Al-Bajuri. Penerbit Dar Al-Minhaj.
  • Mukhtashar Abu Syuja’. Cetakan pertama, Tahun 1428 H. Al-Imam Al-‘Aalim Al-‘Aalamah Ahmad bin Al-Husain Al-Ashfahani Asy-Syafi’i (433-593 H). Penerbit Dar Al-Minhaj.
  • Tahqiq Ar-Raghbaat bi At-Taqsiimaat wa At-Tasyjiiroot li Tholabah Al-Fiqh Asy-Syafii. Syaikh Dr. Labib Najib ‘Abdullah Ghalib.
  • Tashil Al-Intifa’ bi Matn Abi Syuja’ wa Syai’ mimma Ta’allaqa bihi min Dalilin wa Ijma’ min Ath-Thaharah ila Al-Hajj. Syaikh ‘Abdullah bin Muhammad bin Husain Al-Qadiri. www.alukah.net.
  •  https://rumaysho.com/3267-kencing-dan-mandi-di-air-yang-tergenang.html
  • https://rumaysho.com/31940-matan-taqrib-istinjak-dan-adab-buang-hajat.html
  • https://muslim.or.id/61195-hukum-buang-hajat-menghadap-kiblat.html

 

 

Jum’at siang, 14 Robiul awal 1445 H, 29 september 2023

di Desa Bakau Kec.Jawai

Abu Abdillah Mubaarok Jeki bin hamdi

Artikel Baitul ILmi

 

Posting Komentar untuk "ADAB DAN TATA CARA ISTINJA' (BAG 1)"