BAB WHUDHU , SYARAT DAN RUKUN WUDHU
Syarat,dan Rukun berwudhu
الوضوء:
فرائض الوضوء:
وَفُرُوْضُ الوُضُوْءِ سِتَّةُ أَشْيَاءَ: النِّيَّةُ
عِنْدَ غَسْلِ الوَجْهِ وَغَسْلُ الوَجْهِ وَغَسْلُ اليَدَيْنِ إِلَى
المِرْفَقَيْنِ وَمَسْحُ بَعْضِ الرَّأْسِ وَغَسْلُ الرِّجْلَيْنِ إِلَى
الكَعْبَيْنِ وَالتَّرْتِيْبُ عَلَى مَا ذَكَرْنَاهُ.
Rukun (fardhu) wudhu ada enam:
1. Niat ketika membasuh muka.
2. Membasuh muka.
3. Membasuh kedua tangan sampai siku.
4. Mengusap sebagian kepala.
5. Membasuh kedua kaki sampai mata kaki.
6. Tertib (berurutan)
Berwudhu adalah salah satu dari
syarat agar ibadah sholat itu sah dan diterima oleh Allah subhanahuwa ta’aala
maka dari itu membahas tentang wudhu menjadi pembahasan yang sangat penting
sekali didalam syariat agama islam, hal ini sebagaimana ditegaskan oleh nabi
shalallahu alaihi wasallam :
عن أبي هريرة رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صلى الله عليه وسلم : "لاَ يَقْبَل الله صلاَة أَحَدِكُم إِذا أَحْدَث حَتَّى يَتوضَّأ"(متفق عليه ).
“dari sahabat abu huroiroh
radhiallahu anhu beliau berkata : nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda : tidak
akan diterima sholat salah seorang diantara kalian kalau dia berhadast sampai
dia bersuci ( muttafaqun alaihi ).
حَدَّثَنَا سَهْلُ بْنُ أَبِي سَهْلٍ حَدَّثَنَا أَبُو
زُهَيْرٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَقَ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ عَنْ
سِنَانِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةً بِغَيْرِ
طُهُورٍ وَلَا صَدَقَةً مِنْ غُلُولٍ
Telah menceritakan kepada
kami Sahl bin Abu Sahl berkata,
telah menceritakan kepada kami Abu Zuhair dari Muhammad bin Ishaq dari Yazid bin Abu Habib dari Sinan bin Sa'd dari Anas bin Malik berkata; Aku mendengar
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Allah tidak menerima
shalat tanpa bersuci dan tidak menerima sedekah dari harta curian." (
H.R. Ibnu Majah ).
Dari dua hadist diatas dapat kita simpulkan
bahwa ibadah sholat atau ibadah yang membutuhkan suci didalamnya tidak akan sah
kecuali telah hilang hadast atau telah bersuci.
Berwudhu sendiri memiliki keutamaan
yang sangat banyak dan besar salah satunya berwudhu bisa menjaga diri dari
syaiton, berwudhu juga bisa menjadikan kita termasuk dalam kategori orang-orang
yang beriman sebagaimana yang ditegaskan oleh Rasulullah shalallahhu alaihi
wasallam :
عن ثوبان ، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم ، قال : " استقيموا ولن تحصوا ، واعلموا أن خير دينكم الصلاة ، ولا يحافظ على الوضوء إلا مؤمن " .( رواه ابن ماجه )
"Istiqamahlah
kalian, dan jangan pernah menghitungnya. Ingatlah bahwa amal terbaik kalian
adalah shalat, dan tidaklah menjaga wudhu kecuali orang yang beriman.
[HR. Ibnu Majah : 277]
Whudu secara istilah adalah : غسل
الأعضاء الأربعة بنية المخصوصة مع الترتيب.
Membasuh
mepat anggota bagian tubuh dengan niat yang khusus disertai tertib.
Pada matan abu syuja’
penulis hanya menyebutkan rukun dan sunnah berwudhu tidak menyebutkan syarat
wudhu maka disini akan kita sebutkan 5 syarat wudhu sebagaimana yang akan kami
nukilkan dari perkataan syaikh labib ketika beliau menjelaskan tentang whudu.
Syarat wudhu :
1.
Islam
Ini menunjukan
bahwa orang kafir tidak sah wudhu baginya
2.
tamyiiz
Ini menunjukan
bahwa wudhu tidak sah dilakukan oleh anak kecil yang belum mumayyiz ( belum
bisa membedakan antara yang baik dan buruk )
3.
tidak ada penghalang baik penghalang yang bersifat hissi maupun
penghalang yang bersifat ma’nawi .
yang dimaksud
penghalang hissi adalah segala sesuatu yang menghalangi air masuk keanggota wudhu
baik berupa kotoran ataupun yang lainnya, misal kotoran yang terdapat dikuku
atau kutek yang terdapat pada kuku wanita dan lain sebagainya.
Sedangkan makna
penghalang ma’nawi adalah penghalang yang bersifat syari seperti wanita yang lagi
haid atau nifas.
4.
Air yang digunakan adalah air yang suci dan mensucikan dan ini
telah kita bahas pada bab jenis-jenis air silahkan dibaca dibab tersebut.
5.
Masuk waktu sholat, adapun syarat yang kelima ini bukan untuk setiap
orang akan tetapi syarat ini untuk setiap orang yang selalu berhadast atau
dawamun hadast.
Adapun rukun wudhu ada 6 :
1.
Niat ketika membasuh muka
Penulis mengatakan
harus berniat saat membasuh muka hal ini dikarenakan hakikat dari niat itu
adalah قصد اليشئ مقترنا بالفعل “bermaksud
mengerjakan sesuatu yang dibarengi dengan perbuatan adapun jika niat itu
mendahului perbuatan maka ia bukanlah niat akan tetapi azam.
Hukum niat
sendiri adalah wajib dan jika ditinggalkan maka akan menyebabkan wudhu itu
tidak sah dan harus diulangi. Akan tetapi hukum niat juga terkadang hukumnya
sunnah seperti jika seseorang ingin menghilangkan najis.
Tempat niat
adalah hati dan ini menurut kesepakatan para ulama dan disunnahkan untuk
melafadzkannya untuk membantu hati disaat melakukan ibadah.
2.
Membasuh wajah
Batasan-batasan
wajah :
·
Panjang
(thuulan): antara tempat tumbuh rambut kepala (ghaliban, umumnya) dan ujung
lahyayni (tulang tumbuh gigi bawah, mulai dari dagu hingga telinga).
·
Lebar
(‘ardhan): di antara kedua telinga.
Jika diwajahnya terdapat bulu yang tebal maka ia wajib untuk
membasuh secara keseluruhannya, adapun jenggot jika jenggotnya tipis maka ia
wajib membasuh dan menyela-nyelanya dan memastikan agar air sampai kekulitnya
dan jika jenggotnya tebal maka cukup baginya menyela-nyelanya saja.
3.
Membasuh kedua tangan sampai siku
Wajib baginya
agar memastikan air mengenai tangan sampai siku dan juga setiap rambut atau pun
bulu yang terdapat ditangannya juga wajib ia basuh baik bulunya tipis ataupun
tebal, Jika tangannya buntung maka kewajibannya adalah membasuh sisa dari
tangannya.
4.
Mengusap sebagaian dari kepala
Sah wudhu
sesorang jika ia hanya mengusap sebagaian dari kepalanya sebagaimana yang
disebutkan oleh penulis.
5.
Membasuh kaki hingga mata kaki
6.
Tertib / berurutan
Jika seandainya ia lupa untuk tertib
atau sengaja dikarenankan malas maka ia harus mengulang wudhunya karna wudhunya
tidak sah.
Dalil yang membicarakan masalah wudhu adalah firman Allah subhanahu
wata’ala :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى
الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ
وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ
“Hai orang-orang yang beriman,
apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu
sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua
mata kaki.” (QS. Al Maidah: 6)
Referensi:
- Fath Al-Qarib Al-Mujib. Al-‘Allamah Asy-Syaikh Muhammad bin
Qasim Al-Ghazi. Penerbit Thaha Semarang.
- Hasyiyah Al-Baijuri ‘ala Syarh
Al-‘Allamah Ibnu Qasim Al-Ghazzi ‘ala Matn Abi Syuja’. Cetakan kedua, Tahun 1441 H. Ibrahim bin
Muhammad bin Ahmad Al-Bajuri. Penerbit Dar Al-Minhaj.
- Mukhtashar Abu Syuja’. Cetakan pertama, Tahun 1428 H.
Al-Imam Al-‘Aalim Al-‘Aalamah Ahmad bin Al-Husain Al-Ashfahani Asy-Syafi’i
(433-593 H). Penerbit Dar Al-Minhaj.
- Tahqiq Ar-Raghbaat bi At-Taqsiimaat wa
At-Tasyjiiroot li Tholabah Al-Fiqh Asy-Syafii. Syaikh Dr. Labib Najib ‘Abdullah Ghalib.
- Tashil Al-Intifa’ bi Matn Abi Syuja’ wa
Syai’ mimma Ta’allaqa bihi min Dalilin wa Ijma’ min Ath-Thaharah ila
Al-Hajj. Syaikh ‘Abdullah bin
Muhammad bin Husain Al-Qadiri. www.alukah.net.
·
https://rumaysho.com/31150-matan-taqrib-hukum-bejana-dan-sunnah-siwak.html
·
https://www.hadits.id/hadits/majah/269
·
https://hadeethenc.com/ar/browse/hadith/3534
Kamis pagi, 6 Robiul awal 1445 H, 21 september 2023
di Desa Bakau Kec.Jawai
Abu Abdillah Mubaarok Jeki bin hamdi
Artikel Baitul ILmi
Posting Komentar untuk "BAB WHUDHU , SYARAT DAN RUKUN WUDHU"