Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

JENIS - JENIS AIR

 بسم الله الرحمن الرحيم

الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ وَآلِهِ الطَّاهِرِيْنَ وَصَحَابَتِهِ أَجْمَعِيْنَ.

ثُمَّ الِميَاهُ عَلَى أَرْبَعَةِ أَقْسَامٍ :

طَاهِرٌ مُطَهِّرٌ غَيْرُ مَكْرُوْهٍ وَهُوَ الماءُ المطْلَقُ

طَاهِرٌ مُطَهِّرٌ مَكْرُوْهٌ وَهُوَ الماءُ المشَمَّسُ ،

وَطَاهِرٌ غَيْرُ مُطَهِّرٍ ؛ وَهُوَ الماءُ المسْتَعْمَلُ ، والمتَغَيِّرُ بِمَا خَالَطَهُ مِنَ الطَّاهِرَاتِ ،

وَمَاءٌ نَجِسٌ وَهُوَ الَّذِي حَلَّتْ فِيْهِ نَجَاسَةٌ وَهُوَ دُوْنَ القُلَّتَيْنِ أَوْ كَانَ قُلَّتَيْنِ فَتَغَيَّرَ

. وَالقُلَّتَانِ خَمْسُمِائَةِ رِطْلٍ بَغْدَادِيِّ تَقْرِيْباً فِي الأَصَحِّ.

 

 

Macam – macam air

Penulis kitab mukhtasor abi syuja’ membagi air menjadi 4 :

1.     طَاهِرٌ مُطَهِّرٌ غَيْرُ مَكْرُوْهٍ وَهُوَ الماءُ المطْلَقُ

Air yang suci untuk dirinya sendiri dan mensucikan untuk yang lainnya tidak makruh maka dia disebut air yang mutlak.

     Air ini adalah air yang sifat nya masih asli pada keadaan asalnya dan belum tercampur dengan benda lainnya dan juga tidak ada embel -embel dibelakangnya.artinya dalam penyebutannya ia disebut sebagai air, dan huku air ini sebagaimana yang disebutkan oleh penulis dia hukumnya suci pada dirinya sendiri dan mensucikan untuk yang lainnya.

2.     طَاهِرٌ مُطَهِّرٌ مَكْرُوْهٌ وَهُوَ الماءُ المشَمَّسُ

Air yang suci untuk dirinya sendiri dan tetapi makruh mensucikan untuk yang lainnya dan air ini disebut air musyammas.

          Air jenis ini adalah air yang terkena sinar matahari yang menjadikan ia berubah menjadi hangat dan mendekati panas, dan hukum penggunaan air ini adalah makruh karna dikhawatirkan akan menyebabkan penyakit kulit ketika digunakan. Dan makruh disini ketika air musyammas digunakan pada badan bukan pada pakaian.

3.     وَطَاهِرٌ غَيْرُ مُطَهِّرٍ ؛ وَهُوَ الماءُ المسْتَعْمَلُ ، والمتَغَيِّرُ بِمَا خَالَطَهُ مِنَ الطَّاهِرَاتِ

Air yang suci untuk dirinya sendiri tetapi tidak mensucikan untuk yang lainnya dan dia adalah air musta’mal dan air yang berubah dikarenakan bercampur dengan benda yang suci.

          Jenis air yang ke 3 adalah air musta’mal yang mana air ini adalah air yang suci untuk dirinya sendiri yang artinya ia boleh digunakan untuk mandi untuk membersihkan badan , juga untuk selainnya tetapi tidak bisa digunakan untuk mensucikan seperti berwudhu atau mandi janabah.

Disebutkan oleh syhaikh labib najid :

الماء المستعمل فهو ما استعمل في فرض طهارة وكان دون القلتين

Air musta’mal maka dia adalah air yang dipakai untuk bersuci yang sifatnya wajib dan dia tidak mencapai dua qullah.

          Dari penjelasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud air musta’mal harus memenuhi dua syarat yang

·        air yang dipakai untuk bersuci yang wajib saja seperti whudu untuk sholat dan tidak termasuk whudu yang sifatnya hanya memperbaharui saja atau mandi janabah dan tidak termasuk mandi dihari jum’at.

·        Air tersebut sedikit dan kalaupun banyak maka ia tidak mencapai dua qullah

Yang artinya kalau air tersebut digunakan untuk bersuci yang sifatnya sunnah dan jumlahnya mencapai dua qullah maka air ini tidaklah termasuk air yang musta’mal maka hukumnya tetap mensucikan.

          Kemudian termasuk air yang suci tapi tidak bisa mensucikan adalah air yang telah bercampur dengan benda yang suci yang mana air ini telah berubah penamaannya dari asal air tersebut. Dan perubahan yang terjadi adalah perubahan yang banyak. Misalnya air yang bercampur dengan kopi,susu,teh,sabun, dan lain sebagainya.

          Maka dari segi hukum air ini tetap suci untuk dirinya sendiri tapi tidak bisa mensucikan untuk yang lainya.

4.     وَمَاءٌ نَجِسٌ وَهُوَ الَّذِي حَلَّتْ فِيْهِ نَجَاسَةٌ وَهُوَ دُوْنَ القُلَّتَيْنِ أَوْ كَانَ قُلَّتَيْنِ فَتَغَيَّرَ

 وَالقُلَّتَانِ خَمْسُمِائَةِ رِطْلٍ بَغْدَادِيِّ تَقْرِيْباً فِي الأَصَحِّ

Air najis dan dia adalah air yang kemasukan benda najis dan dia kurang dari dua qullah atau airnya mencukupi dua qullah tapi berubah .

Dan dua qullah jumlahnya kurang lebih 500 liter bagdad dan ini yang paling benar.

          Jenis air yang terakhir adalah air najis yang mana air ini adalah air yang kemasukan benda najis dan air ini sedikit artinya kurang dari dua qullah, sekalipun tidak berubah dari air tersebut maka ia tetap dihukumi najis, akan tetapi jika air tersebut mencapai dua qullah maka ia dihukumi sebagai air yang najis jika 3 dari salah satu sifat air tersebut berubah.

 yang dimaksud dengan 3 sifat adalah baunya, rasanya, warnanya. Jadi jika air tersebut tidak berubah dan jumlahnya mencapai dua qullah maka ia tidak dihukumi sebagai air yang najis hal ini sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi shalallahu alaihi wasallam

عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما قال: سُئِلَ رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الماء وما يَنُوبُهُ من الدواب والسِّبَاعِ، فقال صلى الله عليه وسلم : «إذا كان الماء قُلَّتين لم يحمل الخَبَثَ».  
[صحيح] - [رواه أبو داود وابن ماجه والترمذي والنسائي والدارمي وأحمد]  

dari [Ubaidullah bin Abdullah bin Umar] dari [Ibnu Umar] ia berkata; "Aku mendengar dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ketika beliau ditanya tentang air yang ada di tanah lapang dan sering dikunjungi oleh binatang buas dan hewan hewan lainnya, " Ibnu Umar berkata; Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Apabila air itu mencapai dua Qulah maka tidak akan mengandung kotoran najis.(H.R. Abu Daud, dan Ibn Majah, dan At-tirmidzi dan An-Nasa’i dan Ad-Darimi dan Ahmad ).

          Adapaun yang dimaksudkan dengan dua qullah jika dikonversikan kepada liter kita orang indonesia maka yang paling kuat adalah sekitar 216-217 liter hal ini sebagaimana dikatakan oleh syaikh labib najid ketika menjelaskan kitab mukthasor bai syuja’.

 

 

Referensi:

  • Fath Al-Qarib Al-Mujib. Al-‘Allamah Asy-Syaikh Muhammad bin Qasim Al-Ghazi. Penerbit Thaha Semarang.
  • Hasyiyah Al-Baijuri ‘ala Syarh Al-‘Allamah Ibnu Qasim Al-Ghazzi ‘ala Matn Abi Syuja’. Cetakan kedua, Tahun 1441 H. Ibrahim bin Muhammad bin Ahmad Al-Bajuri. Penerbit Dar Al-Minhaj.
  • Mukhtashar Abu Syuja’. Cetakan pertama, Tahun 1428 H. Al-Imam Al-‘Aalim Al-‘Aalamah Ahmad bin Al-Husain Al-Ashfahani Asy-Syafi’i (433-593 H). Penerbit Dar Al-Minhaj.
  • Tahqiq Ar-Raghbaat bi At-Taqsiimaat wa At-Tasyjiiroot li Tholabah Al-Fiqh Asy-Syafii. Syaikh Dr. Labib Najib ‘Abdullah Ghalib.
  • Tashil Al-Intifa’ bi Matn Abi Syuja’ wa Syai’ mimma Ta’allaqa bihi min Dalilin wa Ijma’ min Ath-Thaharah ila Al-Hajj. Syaikh ‘Abdullah bin Muhammad bin Husain Al-Qadiri. www.alukah.net.
  •          https://rumaysho.com/30817-matan-taqrib-penjelasan-macam-macam-air-suci-hingga-air-najis.html
  •          https://ilmuislam.id/hadits/34539/hadits-tirmidzi-nomor-62




_

ARTIKEL BAITUL ILMI
Abu Abdillah Mubaaroq Jeki ibn Hamdi
kamis 28 safar 1445 / 14 september 2023

Posting Komentar untuk "JENIS - JENIS AIR"