Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

SUNNAH-SUNNAH BERWHUDU

 

SUNNAH – SUNNAH BERWUDHU

سنن الوضوء:

وَسُنَنُهُ عَشَرَةُ أَشْيَاءَ: التَّسْمِيَّةُ وَغَسْلُ الكَفَّيْنِ قَبْلِ إِدْخِالِهِمَا الإِنَاءَ وَالمضْمَضَةُ والاِسْتِنْشَاقُ وَمَسْحُ جَمِيْعِ الرَّأْسِ وَمَسْحُ الأُذُنَيْنِ ظَاهِرِهِمَا وَبَاطِنِهِمَا بِمَاءٍ جَدِيْدٍ وَتَخْلِيْلُ اللِّحْيَةِ الكَثَّةِ وَتَخْلِيْلُ أَصَابِعِ اليَدَيْنِ وَالرِّجْلَيْنِ وَتَقْدِيْمُ اليُمْنَى عَلَى اليُسْرَى وَالطَّهَارَةُ ثَلاَثًا ثَلاَثًا وَالموَلاَةُ.

 

Sunnah wudhu ada sepuluh:

1.     Mengucapkan basmalah.

2.     Mencuci kedua tangan sebelum memasukkan tangan tersebut ke dalam wadah.

3.     Memasukkan air ke mulut (madhmadhah).

4.     Memasukkan air ke dalam hidung (istinsyaq).

5.     Mengusap seluruh kepala.

6.     Mengusap kedua telinga luar maupun bagian dalamnya dengan air yang baru.

7.     Menyela-nyela jenggot yang tebal, serta menyela-nyela jari tangan dan kaki.

8.     Mendahulukan yang kanan dari yang kiri.

9.     Bersuci masing-masing tiga kali.

10. Muwalah.

Sunnah menurut istilah mempunyai arti ما أمر به الشارع أمرا عير جازما ( apa -apa yang diperintahkan didalam syariat dengan perintah yang tidak mengharuskan ).

Adapun hukum sunnah adalah ما يثاب فاعلها ولا يعاقب تاركها ( sesuatu yang jika dikerjakan mendapatkan pahala dan jika ditinggalkan tidak berdosa ).

          Sunnah didalam berwudhu sangatlah banyak sekali sebagaian ulama mengatakan sunnah berwudhu mencapai 50 sunnah akan tetapi penulis hanya mencukupkan dengan 10 sunnah saja.

SUNNAH – SUNNAH BERWHUDU

1.     sunnah pertama yang disebutkan didalam kitab matan abu syuja’ adalah tasmiyah, atau membaca bismillah dan bacaan bismillah yang paling afdhol adalah bismillahirohmanirohiim, dengan bacaan yang sempurna adapun jika hanya membaca bismillah saja maka itu sudah mencukupi. Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah shalallahu alahi wasalllam :

لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لاَ وُضُوْءَ لَهُ، وَلاَ وُضُوْءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرِ اسْمَ اللهِ عَلَيْهِ.

 

Tidak sah shalat seseorang tanpa wudhu. Dan tidak ada wudhu untuk seseorang yang tidak menyebut nama Allah.”( Hasan: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 320)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/174 no. 101), dan Sunan Ibni Majah (I/140 no. 399).

Ucapan bismillah diucapkan bersamaan dengan mencuci telapak tangan dan niat sunnah, adapaun niat wajib itu ketika mencuci wajah dan telah dijelaskan dipembahasan sebelumnya. Jadi pada satu waktu ini teglah terkumpul tiga sunnah yang dilakukan yang pertama sunnah qolbiyah dan ia adalah niat, kemudian sunnah fi’liah dan dia adalah mencuci kedua telapak tangan dan sunnah qouliah dia adalah ucapan bismillah. Jika sesorang meninggalakan secara sengaja atau karena ia lupa ucapan basmalah ini maka whudunya tetap sah dan jika seandainya ia teringat atau ingin mengucapkan basmalah ditengah whudunya maka ia diperbolehkan, tetapi jika whudunya telah selesai maka tidak boleh bagi dia untuk mengucapkan basmalah.

2.     Mencuci kedua tangan sebelum memasukannya kedalam wadah

Sebagaimana hadist dari sahabat usman rhadiallahu anhu

عَنْ حُمْرَانَ مَوْلَى عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ أَنَّهُ رَأَى عُثْمَانَ دَعَا بِوَضُوءٍ ، فَأَفْرَغَ عَلَى يَدَيْهِ مِنْ إِنَائِهِ ،

 فَغَسَلَهُمَا ثَلاَثَ مَرَّاتٍ

Dari Humroon budaknya Utsman bin Affan, (ketika ia menjadi budaknya Utsman suatu ketika beliau memintanya untuk membawakan air wudhu (dengan wadah, kemudian aku tuangkan air dari wadah tersebut ke kedua tangan beliau. Maka ia membasuh tangannya sebanyak tiga. ( H.R. bukhori dan Muslim ).

para ulama mengatakan bahwa mencuci tangan ditetapkan sebagai suatu yang sunnah dikarenakan sahabat ustman rhadiallahu anhu hanya melihat perbuatan nabi dan bukan sebuah perintah dari nabi yang menjadikan perbuatan ini hanya dihukumi sunnah.

3.     Memasukan air kemulut

Sunnah yang selanjutnya adalah memasukan air kedalam mulut kemudian dia berkumur kekiri dan kekanan kemudian dia membuang airnya dan ini yang paling afdhol.

4.     Memasukan air kedalam hidung

Dengan cara menghirup air kedalam hidung dan yang paling sempurna adalah menggabungkan antara memasukan air kedalam mulut bersamaan dengan memasukan air kedalam hidung.

5.     Mengusap seluruh kepala.

Cara yang paling sempurna adalah seseorang meletakan jari telunjuk dan jari lainnya dikepala bagian depan kemudian jari induk ( kedua jemponya ) diletakan shudgoin kemudia ia usapkan sampai ketengkuk setelah itu ia kembalikan kearah semula.

6.      Mengusap kedua telinga luar maupun bagian dalamnya dengan air yang baru.

Caranya adalah seseorang mengambil air yang baru bukan air bekas dari kepalanya kemudian meletakan jari telunjuk ke bagian dalam telinga dan jari jempol memegang bagian luar telinga kemudian disela-sela dan digosok-gosok.

7.     Menyela-nyela jenggot yang tebal, serta menyela-nyela jari tangan dan kaki.

Jenggot yang tebal maka cukup disela-sela dibagian luar saja adapun didalam maka tidak perlu. Untuk menyela-nyela jari baik tangan maupun kaki maka jika seandainya tidak bisa sampainya air kecuali harus dengan disela-sela maka menjadi wajib hukumnya.

Cara menyela jari-jari kaki maka dimulai dari jari kelingking sebelah kanan dan ditutup dengan jari kelingking sebelah kiri dengan menggunakan jari kelingking sebelah kiri.

8.     Mendahulukan yang kanan dari yang kiri.

Hal ini Berdasarkan hadits ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma :

 

كَـانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحِبُّ التَّيَـامُنُ فِيْ تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطَهُوْرِهِ وَفِيْ شَأْنِهِ كُلِّهِ.

 

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam suka mendahulukan bagian kanan saat memakai sandal, menyisir rambut, bersuci, dan dalam semua hal (Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/269/168)], Shahiih Muslim (I/226 no. 268), (XI/199 no. 4122), dan Sunan an-Nasa-i (I/78).

Juga terdapat dalam hadist ustman yang mana beliau ketika berwhudu beliau memulai dari yang kanan setelah itu yang kiri.

9.     Bersuci masing-masing tiga kali.

Bersuci tiga kali ini berdasarkan hadist ustman yang mashur, juga berlaku untuk bagian yang dibasuh seperti tangan , kaki dan lainya juga termasuk untuk bagian yang diusap seperti kepala dan lainnya, bahkan ulama syafi’i mengatakan juga disunnahkan ketika berdoa setelah wudhu atau membaca basmalah ketika ingin berwudhu.

10. Muwalah

Maksudnya tidak terputus saat berwudhu, dan pada keadaan tertentu muwalah ini menjadi wajib seperti ketika seseorang yang selalu berhadast ( dawamul hadast ) bahkan muwalah menjadi syarat sah whudu bagi orang yang dawamul hadast. Begitu juga bagi orang yang waktu sholat sudah hampir habis maka muwalah menjadi wajib sekalipun tidak menjadi syarat sah whudu.

 

 

 

 

 

 

 

 

Referensi:

  • Fath Al-Qarib Al-Mujib. Al-‘Allamah Asy-Syaikh Muhammad bin Qasim Al-Ghazi. Penerbit Thaha Semarang.
  • Hasyiyah Al-Baijuri ‘ala Syarh Al-‘Allamah Ibnu Qasim Al-Ghazzi ‘ala Matn Abi Syuja’. Cetakan kedua, Tahun 1441 H. Ibrahim bin Muhammad bin Ahmad Al-Bajuri. Penerbit Dar Al-Minhaj.
  • Mukhtashar Abu Syuja’. Cetakan pertama, Tahun 1428 H. Al-Imam Al-‘Aalim Al-‘Aalamah Ahmad bin Al-Husain Al-Ashfahani Asy-Syafi’i (433-593 H). Penerbit Dar Al-Minhaj.
  • Tahqiq Ar-Raghbaat bi At-Taqsiimaat wa At-Tasyjiiroot li Tholabah Al-Fiqh Asy-Syafii. Syaikh Dr. Labib Najib ‘Abdullah Ghalib.
  • Tashil Al-Intifa’ bi Matn Abi Syuja’ wa Syai’ mimma Ta’allaqa bihi min Dalilin wa Ijma’ min Ath-Thaharah ila Al-Hajj. Syaikh ‘Abdullah bin Muhammad bin Husain Al-Qadiri. www.alukah.net.
  • https://almanhaj.or.id/754-wudhu.html#_ftn15
  •   https://rumaysho.com/31389-matan-taqrib-rukun-dan-sunnah-wudhu.html
  •   https://muslim.or.id/1810-cara-wudhu.html

 

 

sabtu siang, 8 Robiul awal 1445 H, 23 september 2023

di Desa Bakau Kec.Jawai

Abu Abdillah Mubaarok Jeki bin hamdi

Artikel Baitul ILmi

 

         

Posting Komentar untuk "SUNNAH-SUNNAH BERWHUDU "