IMAN KEPADA KITAB-KITAB DAN IMAN KEPADA PARA RASUL
Iman
Kepada Kitab-kitab
Pada
kajian ini, kita akan membahas rukun ketiga dari rukun iman, yaitu iman kepada
kitab-kitab. Beriman kepada kitab-kitab, yaitu dengan mempercayai semua kitab
yang diturunkan oleh Allah SWT kepada para rasulNya, sebagai hujjah kepada
seluruh alam dan petunjuk bagi mereka yang diberi petunjuk.
Kita
beriman, secara khusus kepada kitab-kitab yang disebutkan oleh Allah, seperti
Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa ‘alaihissalam, Injil yang
diturunkan kepada Nabi Isa ‘alaihissalam, Zabur yang diturunkan kepada
Nabi Daud ‘alaihissalam, dan al-Qur’an yang diturunkan kepada penutup
para Nabi, yaitu Nabi Muhammad saw. Allah berfirman,
﴿قُولُوا آمَنَّا
بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ
وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى
وَعِيسَى وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ﴾
“Katakanlah
(hai orang-orang mukmin): "Kami beriman kepada Allah dan apa yang
diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq,
Ya'qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa
yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhan mereka.”
(QS. al- Baqarah: 136)
Al-Qur’an
adalah penutup kitab-kitab samawiyyah. Ia menjadi kitab yang menghapus
kitab-kitab yang pernah diturunkan sebelumnya. Allah berfirman,
﴿وَأَنْزَلْنَا
إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ
وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ﴾
“Dan
Kami telah turunkan kepadamu al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan
apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu
ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu.”
(QS. al-Maidah: 48)
Firman
Allah, “Batu ujian terhadap kitab-kitab (sebelumnya)” bermakna bahwa al-Qur’an
yang mulia menjadi penentu bagi kitab-kitab terdahulu. al-Qur’an menguasai
kitab-kitab sebelumnya dan menghapus kitab-kitab tersebut.
Setiap
muslim wajib mengagungkan kitabullah dan menghormatinya dengan cara
menghalalkan apa yang dihalalkannya, mengharamkan apa yang diharamkannya,
mengambil pelajaran dari kisah dan permisalannya, beramal dengan kandungannya,
membacanya dengan sebenar-benarnya dan membelanya.
Kita
memohon kepada Allah agar mengaruniai kita kepahaman terhadap kitabNya,
senantiasa mentadabburi dan mengamalkannya. Sekian untuk pembahasan ini, kita
lanjutkan pada pertemuan berikutnya, insya Allah, dengan pembahasan
rukun keempat dari rukun iman, yaitu iman kepada para Rasul (utusan Allah).
Iman
Kepada Para Rasul
Kita
akan membahas tentang rukun keempat dari
rukun iman, yaitu iman kepada para Rasul (utusan Allah).
Iman
kepada para Rasul, yaitu dengan mempercayai bahwa Allah SWT telah mengutus
dalam setiap umat seorang Rasul (utusan Allah) dari golongan mereka yang
menyeru mereka untuk beribadah kepada Allah semata, tanpa menyekutukanNya dan
menjauhi peribadatan kepada thagut. Semua Rasul adalah orang-orang
bertakwa, terpercaya, pemberi petunjuk dan yang mendapat petunjuk. Mereka
menyampaikan semua yang dengannya Allah utus mereka. Mereka tidak
menyembunyikan dan tidak merubah sesuatu apapun darinya. Mereka tidak menambah
walaupun satu huruf dari diri mereka dan tidak pula menguranginya. Allah
berfirman,
﴿رُسُلًا مُبَشِّرِينَ
وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ
وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا﴾
“(Mereka
Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan
agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya
rasul-rasul itu. Dan Allah Maha Perkasa
lagi Maha Bijaksana.” (QS. an-Nisa’: 165)
Allah
juga berfirman,
﴿ وَلَقَدْ بَعَثْنَا
فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ﴾
“Dan
sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):
"Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu.”
(QS. an-Nahl: 36)
Kita
beriman, khususnya kepada para Rasul yang disebutkan oleh Allah SWT, seperti
Muhammad, Ibrahim, Musa, Isa, Nuh dan lainnya ‘alaihimushalatu wassalam.
Siapa
saja yang mendustakan risalah salah satu dari mereka, maka dia kufur terhadap
semua Rasul. Oleh sebab itu Allah SWT berfirman,
﴿كَذَّبَتْ قَوْمُ
نُوحٍ الْمُرْسَلِينَ﴾
“Kaum
Nuh telah mendustakan para rasul.”
(QS. asy-Syu’ara: 105)
Allah
juga berfirman,
﴿كَذَّبَتْ عَادٌ
الْمُرْسَلِينَ﴾
“Kaum
'Aad telah mendustakan para rasul.”
(QS. asy-Syu’ara: 123)
Tentunya
sudah diketahui, bahwa setiap umat terdahulu mendustakan Rasul yang diutus
kepada mereka. Hanya saja, pendustaan terhadap seorang Rasul sama dengan
mendustakan semua Rasul, karena kesatuan agama dan kesamaan Dzat yang mengutus
mereka, yaitu Allah SWT.
Allah
SWT telah menutup para Rasul dengan Nabi Muhammad saw, sebagaimana firman Allah
SWT,
﴿مَا كَانَ مُحَمَّدٌ
أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ﴾
“Muhammad
itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi
dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi.”
(QS. al- Ahzab: 40)
Dan
Allah menjadikan agamanya sebagai penghapus agama-agama sebelumnya. Allah
berfirman,
﴿وَمَنْ يَبْتَغِ
غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ
الْخَاسِرِينَ﴾
“Barangsiapa
mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima
(agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.”
(QS. Ali Imran: 85)
Rasulullah
saw juga bersabda,
وَالَّذِيْ نَفْسُ
محمدٍ بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا
نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِيْ أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا
كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ
“Demi Dzat yang jiwa
Muhammad berada di tanganNya, tidak ada seorangpun yang mendengarku dari umat
ini, baik Yahudi maupun Nasrani, lalu dia mati sedang dia tidak beriman kepada
risalahku, kecuali dia menjadi penduduk neraka.” (HR. Muslim)
Dan
siapa yang mengklaim bahwa Allah menerima agama selain syari’at Nabi Muhammad
saw setelah beliau diutus, maka dia kafir, sebab dia mendustakan al-Qur’an dan
Sunnah, serta ijma’ ulama kaum muslimin.
Kita
memohon kepada Allah SWT agar senantiasa menjadikan kita orang yang beriman
kepada para Rasul, mengikuti jejak mereka dan meneladani mereka. Demikian, dan
kita akan lanjutkan pembahasan berikutnya pada pertemuan selanjutnya, insya
Allah, tentang rukun kelima dari rukun iman, yaitu iman kepada hari akhir.
DIKUTIP DARI BUKU:
‘Ithru al-Majâlis; Durûs qashîrah fîma la yanbaghi li al-muslim jahluhu
(عطر المجالس: دروس قصيرة فيما لا ينبغي للمسلم جهله)
Penulis:
Turki bin Ibrahim al-Khunaizan
Judul Terjemahan:
‘Ithrul Majâlis; Kajian Singkat Tema-tema Penting Bagi Seorang Muslim
Penerjemah:
Dr. Ahmad Musyaddad Lc. MEI
3 Rabiul Akhir 1445/ 19 oktober 2023
SORE HARI DIKOTA PONTIANAK
ABI ABDILLAH MUBAROOK

Posting Komentar untuk "IMAN KEPADA KITAB-KITAB DAN IMAN KEPADA PARA RASUL"